Departemen Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) meminta bantuan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk mencari solusi bagi beberapa penyelenggara sistem elektronik (ESP) bandel yang tidak mau mendaftar. Beberapa PSE rata-rata dimiliki oleh perusahaan yang berbasis di negeri Paman Sam.

Sebelumnya ada tujuh PSE yang diblokir Kemenkominfo. Yaitu PayPal, Dota 2, Steam, Epic Games, Counter-Strike (CS), Yahoo dan Origin. Juru bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika Dedy Permadi mengatakan Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menanggapi keluhan dan aspirasi masyarakat. Contoh: Membuka kembali login PayPal Anda mulai Minggu (31/7) pukul 08:00 WIB hingga Jumat (05/08) pukul 23:59 WIB.

“Kami kembali menghimbau kepada masyarakat untuk memanfaatkan waktu lima hari kerja yang diberikan oleh Departemen Komunikasi dan Informatika untuk mentransfer kekayaannya ke PayPal di platform lain,” kata Dedy kemarin (8/1).

Sementara itu, Dedy mengatakan pihaknya masih berusaha berkomunikasi dengan para eksekutif PayPal. Sejauh ini, PayPal belum merespons, meski Kementerian Komunikasi dan Informatika telah melakukan berbagai upaya komunikasi melalui berbagai jalur.

CEO Aptika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan, mengumumkan pihaknya telah menghubungi Kedutaan Besar AS di Jakarta untuk membantu berkomunikasi dengan PayPal dan menanggapi pesan. dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kementerian Komunikasi dan Informatika mengalami situasi serupa ketika mencoba menghubungi Steam, Dota, dan CS GO. Hingga kemarin, kata Dedy, komunikasi tersebut terus ditindaklanjuti. “PSE sudah merespon email dari Departemen Teknologi Informasi dan Komunikasi meskipun belum melengkapi formulir pendaftaran yang dipersyaratkan sebagai syarat standardisasi,” jelas Dedy.

Semmy – sapaan akrab Semuel – menambahkan bahwa respon dan itikad baik dari pengelola ketiga game tersebut sangat penting agar para penggunanya di Indonesia dapat segera menikmati layanannya kembali. “Kami optimis ketiga game ini akan segera bersinergi dan memenuhi komitmen mereka,” imbuhnya.

Hal yang sama berlaku untuk Yahoo, Origin, dan Epic Games. Mereka juga perusahaan Amerika. Semmy mengatakan ketiganya belum merespons.

Departemen Komunikasi dan Informatika juga meminta bantuan Kedutaan Besar AS di Jakarta untuk memfasilitasi komunikasi dengan Yahoo yang berbasis di Sunnyvale, Epic Game di North Carolina, dan Origin di Redwood City. Menurut data Ditjen Aptika, Kemenkominfo pada pukul 11.00 WIB pada 1 Agustus, 9.106 sistem elektronik dari 5.419 PSE tercatat terdaftar di pemerintah Indonesia.

Pratama Persadha, presiden CISSReC Cyber ​​Research Institute, mengingatkan tidak semua platform populer yang kini banyak digunakan masyarakat akan segera menemukan penggantinya. Ia mencontohkan PayPal, alat pembayaran yang populer di dunia maya. PayPal, kata Pratama, merupakan alat yang populer bagi para freelancer di tanah air yang mencari uang melalui website asing. “Karena diblokir, sulit untuk menarik dana dari rekening PayPal,” jelasnya.

Bahkan, Pratama mengutip banyak keluhan dari para profesor yang menggunakan PayPal sebagai metode pembayaran alternatif untuk penerbitan jurnal internasional karena mereka tidak memiliki kartu kredit. Sekarang guru bingung mencari alternatif solusi.

Lalu ada Steam dan game PSE online lainnya yang mempersulit aktivitas esports. Belum lagi Github and Co yang menawarkan layanan gratis, yang menyulitkan para programmer di tanah air. “Masalahnya adalah alat yang diperlukan mungkin tidak diganti. Misalnya layanan Google. Jadi dalam jangka panjang, negara perlu melakukan hal yang berbeda untuk memiliki alternatif layanan yang berbeda yang dapat digunakan oleh masyarakat,” katanya.

Sumber: